MEA dan Akuntan di Indonesia

HTML tutorial
 
Banyak masyarakat yang hingga hari ini masih belum menyadari MEA yang telah berlangsung walaupun tanpa hingar bingar. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC) adalah bentuk kerjasama perdagangan bebas antar negara-negara anggota ASEAN yang terdiri dari Brunei, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
 
Yang terjadi dengan adanya MEA adalah bukan hanya persaingan produk-produk lokal terhadap produk luar, namun juga persaingan profesi antara pekerja luar yang masuk ke dalam negeri. Diantara sekian banyak profesi yang dipilih untuk bersaing adalah profesi akuntan.
 
Akuntan turut andil dalam kegiatan perkonomian di indonesia. Namun apakah akuntan-akuntan di Indonesia sudah siap bersaing dengan tenaga asing dari negara lain?  Jawaban itu ada di dalam diri para akuntan sendiri.
 
Seperti kita tahu, bahwa masyarakat Indonesia hampir selalu memandang kualitas tenaga asing lebih berkualitas dibanding tenaga lokal. Maka dari itu kepercayaan diri dibutuhkan untuk berani bersaing dengan tenaga asing.
 
Selain kepercayaan diri, dibutuhkan juga kemampuan sebagai akuntan yang mumpuni yaitu soft skill dan hard skill. Soft skill diantaranya adalah kemampuan berbahasa asing yang dimiliki oleh masyarakat indonesia. Hanya karena mereka bekerja di indonesia, bahasa asing tidak terlalu penting di pergunakan. Kemampuan bahasa asing lah yang dapat menjembatani antar pesan yang ingin disampaikan kepada orang yang tidak mengerti bahasa indonesia.
 
Etos kerja juga merupakan soft skill yang harus dikembangkan, banyak orang asing berfikir tinggal di indonesia menyenangkan karena santainya masyarakat dalam keseharian termasuk dalam bekerja. Sikap santai yang diperlihatkan terkadang membuat pekerjaan yang seharusnya dapat dikerjakan dengan cepat jadi memakan waktu yang cukup lama.
 
Hard skill juga wajib dimiliki oleh para akuntan, baik yang didapat dari lembaga pendidikan formal maupun non formal. Dengan teknologi yang semakin berkembang, para akuntan dituntut untuk lebih up to date terhadap teknologi. Seperti contohnya adalah perusahaan-perusahaan yang mulai menggunakan software akunting dalam melakukan pencatatan keuangan perusahannya.
 
Oleh karena itu, sertifikasi ijazah s1 dapat membantu sebagai bukti dari ilmu yang telah dipelajari di universitas. Sertifikasi pendidikan non formal juga dapat membantu akuntan dalam membuktikan kemampuan di bidang tertentu misalnya sertifikasi yang diberikan DS Consultings dalam bidang penggunaan Accurate Software Akunting.
 
Dengan adanya soft skill dan hard skill yang dimiliki para akuntan di indonesia, dapat membangkitkan kepercayaan diri sehingga siap menghadapi persaingan ketat dari tenaga asing yang datang ke Indonesia.